Anggota KPU Nagekeo Hamili Ponakannya Sendiri


SERGAP NTT -> Bukan main dongkolnya Ny. Jubida Nurdin (59) ketika tahu anak kandungnya, sebut saja Bunga (23) hamil di luar nikah. Lebih menyakitkan lagi, pria yang menghamili buah kasihnya itu ternyata saudaranya sendiri bernama Nikolaus Hama Daeng alias Niko, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Nagekeo. Astaga!
Ny. Jubida tak habis pikir kenapa Niko tega menggauli ponakannya sendiri. Padahal masa depan Bunga juga merupakan tanggung jawab Niko, sebagai paman. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Jarum jam tidak bisa diputar kembali. Pada 12 September 2009 lalu, Bunga telah melahirkan seorang bayi perempuan dan diberi nama  Aziza Ramadani.
“Biadap. Bangsat. Niko itu manusia PKI,” umpat Ny. Jubida saat ditemui Tabloid Sergap di kediamannya di Kampung Makipaket, Kelurahan Mbay II, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo pada Rabu (18/11/09) lalu.
Ny. Jubida marah besar. Pasalnya, aib yang dibawa Niko telah merobohkan martabat keluarganya. Sudah begitu Niko enggan bertanggungjawab. Setiap kali diminta tanggungjawabnya, Niko selalu mengelak.
“Niko itu laki-laki pengecut. Tau berbuat tapi tidak tahu bertanggungjawab. Anak saya sudah berulangkali minta tanggungjawabnya, tapi dia selalu mengelak,” ujar Ny.Jubida, kesal.
Di tempat yang sama, Bunga mengaku, petaka yang ia alami bermula ketika suatu siang di pertengahan tahun 2008 dirinya melancong ke tambak ikan bandeng milik Niko. Maksudnya ingin melepas penat dari panas yang menyengat. Di sana di bale-bale di pojok pondok milik Niko dirinya duduk menghadap arah angin. Rasa segar diterpa angin timur ia nikmati seiring jarum jam bergerak. Namun tak beberapa lama kemudian Niko datang. Diawali dengan tegur sapa, Niko pun duduk di sebelah Bunga. Pertemuan tidak sengaja itu pun dihiasi obrolan layaknya om dan anak. Namun beberapa saat kemudian, entah setan apa yang merasuk, tiba-tiba Niko mengutarakan keinginannya untuk mempersunting Bunga. Tentu saja Bunga kaget dan gemetaran. Takut akan terjadi apa-apa, Bunga langsung memilih langkah seribu. Sesampainya di rumah ia mengadu tindak-tanduk om-nya itu kepada ibunya. Sontak saja ibunya marah besar. Namun persoalan ini tidak meluas. Sebab, beberapa hari kemudian Niko datang meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Alhasil hubungan kekeluargaan antara kedua belah pihak kembali terjalin normal. Hari-hari dijalani seperti biasa. Saling kunjung, tegur sapa kembali terjadi seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun petaka kembali menghimpit Bunga di akhir tahun 2008. Saat itu Niko datang meminta Bunga untuk menjaga burung di sawahnya yang sedang menguning. Niko beralasan dirinya sedang sibuk menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Nagekeo periode 2009-2014. Sebagai imbalannya, Bunga dibayar Rp. 20.000 per hari. Karena tak punya kerja dan jarak antara sawah dengan rumah kakak kandungnya yang bernama Sepia Bhili hanya 100 meter, Bunga akhirnya menyanggupinya. Bunga lalu meminta restu ibunya agar ia diijinkan untuk bekerja pada Niko.  Karena percaya pada janji Niko, sang ibu pun tak keberatan. Bunga lalu dibiarkan membantu Niko. Nah, untuk memperlancar tugas yang diberikan Niko, Bunga memilih nginap di rumah Sepia. Namun apes, ternyata pilihan Bunga ini adalah musibah. Sebab ketika tahu Bunga mulai menginap di rumah Sepia, Niko mulai keranjingan datang bertamu, bahkan menginap di rumah Sepia. Ujungnya, suatu malam sekitar jam 18.30, ketika Sepia dan suaminya terlelap tidur, Niko meminta Bunga memijat kakinya. Awalnya Bunga menolak. Tapi karena dipaksa, Bunga akhirnya menurutinya. Dalam posisi tengadah, Niko menjulurkan kakinya diurut Bunga. Matanya sengaja ditutup menerawang gelap. Sedangkan Bunga yang letih seharian menjaga burung di sawah mulai mengayun jemari lentiknya menjamah kaki sang paman. Namun kira-kira 10 menit kemudian, tiba-tiba Niko beranjak bangun dan langsung memeluk Bunga. Mulut Bunga dibekap. Dibawah ancaman Bunga kemudian ditindih dan dilucuti pakaiannya. Lalu? Dengan leluasa Niko melampiaskan ‘hajat’nya. Setelah itu, Niko kembali mengancam Bunga agar tidak memberitahukan kepada siapa-siapa. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, Niko terus meniduri Bunga. Tak pelak Bunga pun hamil. Ironisnya, ketika masalah kehamilan ini Bunga sampaikan ke Niko, Niko justru marah-marah. Parahnya lagi, Niko menganjurkan agar janin yang di kandung Bunga segera digugurkan. Niko berjanji semua biaya aborsi akan ia tanggung.
Syukur, keinginan jahat itu tak ditanggapi  Bunga. Bunga memilih tetap mempertahankan janinnya. Karena itulah Niko mulai bersikap menjauh dari Bunga. Setiap kali dikontak, Niko selalu menghindar. Bunga benar-benar kalut. Bunga tak tahu lagi harus berbuat apa. Bunga panik. Bunga takut jika kehamilannya diketahui oleh ibu dan saudara-saudaranya.
“Saya sampai pernah berpikir mau bunuh diri saja. Saya sudah tidak sanggup hadapi masalah ini sendiri,” ujarnya, lirih.
Beruntung! Niat bunuh diri itu tidak terlaksana. Tapi Bunga menjadi pemurung. Tak ada lagi canda tawa. Hari-harinya menjadi pahit. Perasaannya dihimpit hasa takut yang luar biasa. Tanda tanya selalu mengawali pikirannya. Bagaimana jadinya kalau Niko benar-benar tidak mau bertanggung jawab? Nah, di saat pening itu, tiba-tiba kakak kandung Bunga yang berdomisili di Jakarta meminta Bunga untuk segera ke Jakarta karena ada peluang kerja yang bisa diambil. Singkat kata Bunga pun ke Jakarta.
“Tapi mungkin karena bawaan janin, sampai di Jakarta saya sakit-sakitan. Saya tidak bisa kerja. Via SMS saya lalu beritahu dia (Niko-Red) bahwa saya sakit-sakit. Dia lalu suruh saya pulang. Dia transfer kasi saya uang. Begitu dapat uang, saya langsung pulang,” papar Bunga.
Sesampainya di Mbay, seiring berjalannya waktu, perut Bunga terus membuncit. Ketika usia kehamilan memasuki empat bulan, ibu dan saudara-saudaranya mulai curiga. Bunga kemudian dipanggil dan diinterogasi. Dari mulut Bunga muncul pengakuan yang mengejutkan kalau dirinya dihamili oleh Niko, pamannya sendiri.
Bunga kemudian didesak oleh keluarga untuk meminta pertanggungjawaban Niko. Namun berkali-kali didatangi, Niko selalu mengelak. Bahkan untuk menghindari Bunga, Niko mulai tinggal berpindah-pindah, dari kost satu ke kost lain, dari rumah keluarga satu ke rumah keluarga yang lain. Tapi Bunga tak patah semangat. Niko terus dicari sampai akhirnya ia bertemu Niko.
“Begitu saya ketemu, saya tanya dia, bagaimana dengan kehamilan saya ini. Lalu dia bilang apa? Dia bilang, untuk anak yang saya kandung dia akan tanggung jawab. Semua biaya akan dia tanggung. Sedangkan diri saya dia tidak mau tanggung jawab. Saya tanya kenapa? Dia hanya bilang pokoknya tidak mau tanggung jawab. Tapi dasar laki-laki tukang tipu, biaya melahirkan yang dia janjikan juga tidak pernah dia berikan. Setelah saya melahirkan, saya temui dia lagi, saya tanya lagi, tapi dia jawab sama saja, dia tidak mau tanggung jawab. Saya benar-benar sakit hati. Saya tidak tahu lagi mau mengadu kemana. Saya sudah dua kali mengadu ke Ketua KPU Nagekeo, tapi jawaban yang saya dapat selalu nihil,” ucap Bunga, lirih.      
Di tempat terpisah, Ny. Sepia Bhili (Kakak kandung Bunga-Red) mengaku baru tahu kelakuan Niko setelah Bunga hamil.
“Sebelum jadi anggota KPU, Niko itu biasa tidur bangun di rumah saya. Setelah dia jadi KPU dia pindah ke Danga. Tapi biar begitu dia masih sering datang tidur bangun di rumah saya. Dia punya pakaian juga masih ada disini, termasuk satu stel pakaian kemponya. Dari awal saya benar-benar tidak curiga apalagi berpikir bahwa dia punya niat jahat terhadap adik saya. Tapi ternyata prasangka baik saya itu, meleset. Biadap memang! Om koq biadap kayak binatang,” sergah Sepia.
Ny. Jubida Nurdin juga mengaku selain Bunga, Niko juga pernah merayu anaknya yang lain, sebut saja Melati. Hanya saja nasib Melati tidak seburuk Bunga. Begitupun dengan ponakan-ponakan lain yang pernah “diganggu” Niko.
“Niko itu bejad. Selain Bunga, adik kandung Bunga juga pernah ‘diganggu’,” katanya.
Kini kasus asusila tersebut telah dilaporkan oleh Bunga dan keluarganya ke Polsek Danga. Ny. Jubida Nurdin berharap polisi dapat memproses kasus ini secara cepat dan profesional.
***
*Niko Daeng: Bukan Saya Yang Pelakunya!*
Benarkah Niko yang menghamili Bunga? Ditemui Tabloid Sergap saat mengikuti diskusi peraturan KPU di Kantor KPU Provinsi NTT di Kupang pada Selasa (15/12/09), Niko membantah kalau dirinya yang menghamili Bunga.
“Bukan saya pelakunya. Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan dia (Bunga-Red). Kalau dia bilang saya yang menghamili dia, itu menurut dia, bukan saya,” tandasnya.
Menurut Niko, apa yang dilaporkan Bunga kepada pers dan polisi adalah nyanyian fitnah. Sebab, dirinya sama sekali tidak punya hubungan yang khusus, apalagi sampai berhubungan badan dengan Bunga. 
“Saya sama sekali tidak punya hubungan yang khusus dengan dia. Antara saya dengan dia itu hanya hubungan keluarga saja,” tegasnya.
Niko juga membantah kalau dirinya sering nginap di rumah Sepia. “Memang benar saya biasa singgah di rumahnya Sepia, tapi itu hanya untuk menitipkan pakaian saya kalau saya mau ke sawah. Kebetulan sawah milik saya dekat dengan rumah Sepia. Tapi kalau tidur di rumah Sepia, saya tidak pernah. Oleh karena itu, saya tidak takut hadapi laporan polisi yang mereka buat itu,” katanya.
***
*Djidon de Han: Bisa Kita Non Aktifkan Atau Pecat*
Kasus asusila yang diderita Bunga ternyata mendapat perhatian serius dari petinggi KPU Provinsi NTT. Jika masalah ini terbukti benar, maka Niko dipastikan diberhentikan dari KPU Nagekeo.
“Jika kedepan ada kekuatan hukum tetap atau ada putusan pengadilan bahwa yang bersangkutan bersalah, maka kita akan bersikap. Bisa kita non aktifkan atau pecat. Itu akan dilakukan lewat rapat pleno KPU,” ujar Juru Bicara KPU Provinsi NTT, Drs. Djidon de Han saat ditemui Tabloid Sergap di ruang kerjanya pada Selasa (15/12) lalu.
Menurut Djidon, sebaiknya Niko bertanggungjawab terhadap apa yang telah dibuat. Ada dua tanggung jawab yang ditawarkan, yakni tanggung jawab menikahi Bunga atau tanggung jawab membayar sanksi terhadap Bunga sesuai adat setempat.
“Jika kasus itu benar, saya kira ada jalan keluarnya. Yang penting mau bertanggung jawab,” imbuhnya. (by. chris parera)
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s