Arsip Kategori: SABU RAIJUA

Jingitiu, Kepercayaan Tradisional Orang Sabu


sergapntt.com, SABU – PULAU Sabu di Nusa Tenggara Timur, hingga saat ini masih menyimpan sebuah misteri, tentang kepercayaan tradisional. JINGITIU, demikian masyarakat setempat menyebutnya., Kepercayaan tersebut, erat kaitannya dengan Penguasa Alam Semesta. Menurut kepercayaan Jingitiu, kekuasaan terwujud dalam hierarki yang jelas, mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat.
Jejak dari kepercayaan ini adalah banyaknya kuburan batu, gua pemujaan, dan hukum adat serta kekuasaan di masyarakat atau di desa-desa adat. Eksistensi kepercayaan Jingitiu menjadi penanda bahwa agama modern belum menyentuh sisi terdalam kebudayaan orang Sabu.
Ama Lay Lado, salah seorang tokoh masyarakat Sabu, yang di temui di Menia, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, Sabtu, 24 Maret 2012, menuturkan, kekuasaan menurut kepercayaan Jingitiu, ada sejak nenek moyang orang Sabu yang dikenal dengan nama Kikaga dan Liura.
Lay Lado mengisahkan, konon, mereka tinggal di Pulau Sabu, tepatnya di Gua Merabu. Kekuasaan dalam kepercayaan orang Sabu tertata secara hierarkis mulai dari Tuhan hingga pemimpin adat. Konsep kekuasaan ini masih dijalankan meskipun mayoritas penduduk Sabu saat ini beragama Kristen.
“Konsep kekuasaan ini diperoleh Kikaga atas petunjuk Lirubala (Tuhan langit) di atas sebuah batu merah (Wadumea). Hingga kini, gua Merabu dan Wadumea dikeramatkan oleh orang Sabu. Selain tidak boleh sembarangan orang menjamahnya, di kedua tempat ini juga sering digelar upacara adat,” jelasnya.
Kepercayaan ini, bermula dari cerita rakyat Sabu. Awalnya Kikaga adalah seorang pencari ikan. Suatu ketika, datanglah sosok dari langit bernama Ludji Liru yang menanyakan dari mana asal Kikaga apa yang dicari. Kikaga menjawab, ia berasal dari seberang dan sedang mencari ikan. Kikaga lalu diajak Ludji Liru ke khayangan menghadap Lirubala.
Selama di khayangan, Kikaga terus menangis. Karena itu, ia dikembalikan ke bumi dan diminta untuk tidur di atas batu merah (Wadumea) untuk menantikan sesuatu yang akan diturunkan dari langit. Hingga sekarang, penganut Jingitiu menjaga Wadumea yang dianggap sebagai tempat Kikaga mendapat petunjuk dari Tuhan langit atau Lirubala.
Keesokan harinya, Kikaga mendapatkan dua hal dari langit. Pertama, kepandaian dan keterampilan untuk mengajarkan budi luhur tentang Tuhan, kemanusiaan, dan lingkungan. Kedua, Kikaga mendapatkan Liura (puteri matahari) sebagai isterinya. Selanjutnya, keduanya tinggal di dalam Gua Merabu dan beranak-pinak menurunkan orang Sabu sekarang ini. Dalam perjalanan suci mengajarkan budi luhur, Kikaga mengendarai kerbau. Oleh karena itu, hingga sekarang kerbau menjadi binatang yang dikeramatkan oleh orang Sabu.
Menurutnya, penganut ajaran Jingitiu percaya bahwa keturunan Kikaga dan Liura mulai berkembang dari kampung yang bernama Teriwu Raeae. Mereka membentuk sebuah komunitas bernama Mone Ama yang artinya “7 laki-laki yang dibapakkan”.
Sejak dahulu, lanjutnya, di wilayah ini sudah terbagi dalam 7 bagian yang dipimpin oleh 7 pejabat, yaitu Deo Rai, Dohe Leo, Rue, Bangu Uda, Pulodo Muhu, Mau Kia, dan Bawa Iri. Tujuh pejabat tersebut memiliki tugas masing-masing, yaitu,
Deo Rai bertugas menjalankan dan memimpin upacara yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat, seperti upacara meminta hujan, mencegah hama, memohon panen yang melimpah, menangkal bencana atau penyakit, dan lainnya.
Dohe Leo bertugas mengawal wilayah dan pengamat upacara. Misalnya, jika terdapat kesalahan dalam pelaksanaan upacara yang bisa mendatangkan kutukan, Dohe Leo akan meminta bantuan Deo Rai.
   
Rue bertugas melaksanakan upacara penyucian. Artinya Rue akan menggelar upacara penyucian pengganti jika ada pelaksanaan upacara yang salah. Bangu Uda bertugas mengurus tanah warga,Pulodo Muhu adalah panglima perang yang bertugas menjaga keamanan wilayah.Mau Kia bertugas melaksanakan pengadilan dan menyelesaikan sengketa atau konflik di antara warga atau dengan warga kampung lain.Bawa Iri bertugas menjaga, memelihara, dan membawa alat-alat upacara.
Dalam pelaksanaan upacara adat, jelasnya, ketujuh pejabat di atas memiliki anggota-anggota yang terdiri dari: Kiru Lihu (penolak perang), Lado Aga (penjaga kedamaian), Lado Lade (penjaga keindahan dan kelestarian alam), Hawa Ranga (pengatur musim), dan Puke Dudu(penenang gelombang laut). Struktur paling bawah disebut Do Gau atau rakyat. Do Gau bertugas mengikuti upacara dan melaksanakan anjuran serta petunjuk.
“Pengetahuan Suku Sabu tentang kekuasaan hingga sekarang masih diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun mayoritas penduduk sudah memeluk agama Kristen. Jumlah pengikut Jingitiu, diperkirakan masih ada sekitar 10 % dari  jumlah penduduk Kabupaten Sabu Raijua atau 8000 orang, yang menyebar di seluruh wilayah ini,” ujarnya.
Meskipun saat ini kepercayaan tradisional itu masih ada dan masih dipertahankan oleh para pengikutnya,  membuat gundah Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira Tome. Hal ini karena, aliran Jingitiu kurang dilindungi dan difasilitasi oleh pemerintah dan elemen masyarakat lain. Bahkan, di tengah persoalan kemiskinan dan keterbatasan yang dialami para penganut Jingitiu berdampak pada lunturnya daya magis dari sebuah ritual.
Sebagai misal, tuturnya, jika setiap ritual harus menggunakan hewan kurban yang besar, tetapi karena masalah kemiskinan maka hanya dilakukan dengan seekora ayam atau sabut kelapa yang dibakar sebagai pengganti hewan kurban, maka daya magisnya akan hilang.
“Saya akan mengembalikan kepada yang sebenarnya dan mereka akan melakukan ritual adat yang sungguh- sungguh sehingga apapun yang dinginkan dari ritual itu akan terwujud, dan saya akan memfasilitasinya,” kata Dira Tome.
Ia mengatakan, pemerintah bertindak sebagai penengah
dan memberikan ruang yang luas baik kepada agama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha, juga kepada agama suku Jingitiu untuk tetap eksis. Akan ada kebijakan khusus untuk melindungi aliran Jingitiu agar jangan sampai hilang.
Model pemberian ruang oleh pemerintah itu, lanjutnya, ketika anak dari orang yang menganut aliran Jingitiu lahir dan dipermandikan sesuai ajaran Jingitiu yang dikenal dengan sebutan “hapo” maka anak tersebut punya hak untuk mendapatkan akte kelahiran. Tidak harus menunggu permandian seperti di agama Kristen, tapi dia punya hak untuk mendapat akte dan berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak
Selain itu, tambahnya, orang yang menganut aliran jingitiu ketika dinikahkan oleh gereja jangan dipaksa n untuk menjadi Kristen. “Meski pasangan Jingitiu itu menikah sesuai adat dan kepercayaan Jingitu, kita berikan akte nikah,” katanya.
Ia mengatakan, langkah itu diambil pemerintah sebagai bentuk keberpihakan untuk melindungi agama suku agar jangan musnah lantaran keinginan agama. Hakekat sesungguhnya bukan persoalan orang menjadi pengikut agama Kristen, Islam dan Katolik dan sebagainya tetapi bagaimana orang bisa menjalankan norma kepercayaan yang tidak bertentang dengan ajaran moral dan kepentingan masyarakat.
Hingga kini, jumlah masyarakat Sabu Raijua yang menganut aliran Jingitiu semakin berkurang. Hal itu, lantaran ada kebijakan masa lalu yang keliru. Selain itu, ada kegiatan upacara adat yang tidak bisa diabaikan kerena aliran Jingitiu penuh dengan ritual dan prosesi adat. Bahkan, dari bulan ke bulan ada ritual yang wajib dilakukan oleh kepercayaan Jingitiu.
Menurut dia, pemerintah dan semua elemen masyarakat Sabu Raijua harus memberikan perlindungan sehingga penganut Jingitiu dapat dengan nyaman melakukan segala ritual itu agar budaya Sabu jangan sampai hiang. “Saya ingin mereka tetap eksis,” katanya.
Melestarikan budaya, termasuk memelihara aliran Jingitiu di Sabu merupakan ciri dari orang bermartabat. Langkah perlindungan yang ditempuh itu bertujuan memberikan perlindungan dan penghormatan kepada agama suku ini agar tetap ada.  Upaya ini merupakan wujud usaha Orang Sabu dalam melestarikan ajaran leluhur.
By. Albert Vincent

Makanan Kecil dari Rumput Laut


sergapntt.com [MENIA] – Janji pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja informal dengan mendidik dan melatih masyarakat lewat berbagai keterampilan kini semakin menampakkan hasil. Sejumlah kelompok masyarakat sudah mulai mengolah rumput laut menjadi makanan kecil yang renyak dan gurih seperti dodol, kripik, stik dan berbagai jenis makanan kecil lainnya.
Cita rasa dari makanan yang berbahan dasar rumput laut ini juga beraneka ragam seperti rasa nangka, rasa lemon dan rasa pisang sehingga bau rumput laut tidak terasa lagi.
Yosefin Ratnawati Tome, salah satu pelatih pembuatan makanan dari rumput laut mengatakan, pemerintah sudah membentuk kelompok-kelompok di kecamatan dan desa di mana anggota kelompoknya sudah dilatih bagaimana mengolah rumput laut dalam bentuk makanan kecil.
“Memang sudah ada masyarakat yang mencoba membuat makanan dari rumput laut, namun mereka tidak mampu menghilangkan bau rumput laut serta hasil olahannya tidak renyah. Setelah kami mengikuti pelatihan di luar dengan difasilitasi pemerintah, maka sekarang kita sudah bisa membuat makanan kecil yang gurih dan tidak kalah dari makanan kecil buatan pabrik. Sekarang sudah banyak kelompok-kelompok di desa maupun kecamatan yang difasilitasi oleh pemda untuk memproduksi makanan kecil yang berbahan dasar rumput laut ini. Mereka kita latih dan pemerintah membantu dengan sedikit modal pertama,” ujarnya.
Untuk itu, maka masyarakat yang tergabung dalam kelompok-kelompok pembuatan makanan kecil dari rumput laut ini sudah bisa menghasilkan uang dari hasil olahan mereka.
“Sekarang tinggal pemerintah membuat label serta mengurus izin dari BPOM Kupang, sehingga bisa diproduksi secara besar-besaran. Setiap hari hasil olahan kita sangat laris, padahal kita belum menjual secara bebas. Yang paling laris yaitu dodol, kripik dan stik rumput laut karena selain harganya murah, rasanya juga gurih,” tambahnya.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome saat melihat kegiatan pelatihan pembuatan rumput laut di Seba mengatakan, hasil olahan rumput laut yang dibuat kelompok cukup membanggakan karena  rasanya tidak berbeda dengan makanan pabrik. Jika ini sudah digerakkan secara besar-besaran, maka akan menjadi lapangan kerja informal bagi masyarakat terutama kaum perempuan di Sabu sehingga bisa meningkatkan ekonomi keluarga.
“Kita memiliki bahan baku berupa rumput laut yang melimpah disini. sekarang tinggak diurus izin produksinya dan dibuatkan label. Kita sudah perintahkan dinas teknis untuk mengurus itu. Industi rumah tangga seperti inilah yang akan menggeliatkan perekonomian kita kedepan. Saya selalu mengatakan bahwa jangan terlalu bermimpi untuk menjadi PNS karena dengan keterampilan seperti ini sudah bisa menghasilkan uang yang cukup,” ujarnya.
Untuk itu, Marthen berpesan agar mutu serta kebersihan makanan hasil olahan harus menjadi perhatian utama sehingga tidak kalah bersaing serta mendapat kepercayaan dari konsumen. “Kalau dulu anak-anak kita jajan di sekolah itu semuanya hasul pabrik, maka sekarang mereka harus menikmati buatan tangan terampil dalam daerahnya sendiri. Berbagai penganan kecil ini menjadi makanan yang bergizi dan bisa menjadi oleh-oleh dari Sabu Raijua,” ujarnya.
By. SE

Hasil Tangkapan Nelayan Sabu Melimpah


sergapntt.com [MENIA] – Hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Sabu Raijua yang tergabung dalam kelompok nelayan yang mendapatkan bantuan perahu lampara oleh pemerintah cukup melimpah saat ini. Hasil tangkapan yang melimpah ini membuat harga ikan di Kabupaten Sabu Raijua turun drastis dari harga selama ini.
Jumat (20/1/11) di dermaga Seba, perahu lampara Mandiri I penuh dengan ikan jenis kombong dan menjadi tontonan masyarakat setempat. Awak perahu cukup kewalahan melayani pembeli serta mengatur ikan yang demikian banyak.
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome yang ikut melihat hasil tangkapan nelayan saat itu merasa bangga dan mengatakan, saatnya masyarakat Sabu Raijua menikmati hasil lautnya sendiri dengan peralatan penangkapan yang baik.
“Selama ini kita hanya cukup bangga dengan laut Sabu yang ganas dan dalam. Namun saat ini dengan peralatan penangkapan yang baik, maka nelayan-nelayan kita mampu menghasilkan ikan yang cukup bagus. Saya mau katakan bahwa saatnya sekarang masyarakat Sabu menikmati hasil kekayaan lautnya sendiri dan tidak lagi hanya menjadi penonton,” katanya.
Dikatakan, untuk menunjang nelayan dalam pengawetan ikan hasil tangkapan, maka pemerintah sudah membangun pabrik es mini, sehingga para nelayan tidak sulit mencari es untuk pengawetan.
Selain itu, pemerintah juga lewat Dinas Perindustrian sudah melakukan pelatihan-pelatihan kepada kelompok masyarakat bagaimana mengawetkan ikan secara baik serta membuat berbagai macam makanan dari bahan baku ikan seperti bagaimana mengolah ikan menjadi abon.
Khusus untuk potensi laut ujarnya, harus diakui bahwa kekayaan yang terkandung di laut Sabu belum bisa dioptimalkan kerena berbagai keterbatasan sarana dan teknologi sehingga orang Sabu Raijua hanya bisa menonton orang luar mengeruk kekayaan yang ada di laut.
“Lihat saja hasil tangkapan mereka sangat luar biasa, hingga penuh perahunya. Nah, jika tiap hari hasil tangkapannya seperti ini, maka harus ada langkah-langkah lain untuk mengantispasinya yakni dengan cara pengawetan atau mengolah hasil tangkapan dalam bentuk lain seperti abon,” ujarnya.
Sementara, Yakobus Lede, salah satu pembeli ikan yang langsung datang ke dermaga kepada mengaku, sejak dioperasikannya perahu lampara bantuan pemerintah, harga ikan menjadi lebih murah jika dibandingkan dengan harga ikan sebelumnya.
“Kalau dulu kita beli 12 ekor ikan dengan harga dua puluh ribu, maka sekarang sepuluh ekor ikan harganya cuma sepuluh ribu. Dulu tidak ada harga ikan yang sepuluh ribu tapi sekarang dengan uang sepuluh ribu kita sudah bisa beli ikan. Kalau kita langsung datang beli di pelabuhan seperti ini, maka kita pasti dapat persen lagi dari mereka,” ujarnya.
By. JEKO

Jauhi KKN, Pemkab Sabu Raijua Mutasi Eselon III dan IV


sergapntt.com [MENIA] – Bertempat di Gereja Imanuel Menia Sabu Barat, Sabtu, (7/1/11) Bupati Sabu Raijua, Marthen L Dira Tome mengambil sumpah dan melantik pejabat yang akan menduduki posisi eselon III dan IV.
Marthen Dira Tome meminta para pejabat yang dilantik menjauhkan diri dari berbagai tindakan yang sangat dimusuhi aparat penegak hukum yakni praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
“Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, saya tegaskan agar dalam melaksanakan tugas, maka harkat dan martaat sebagai PNS harus selalu dijaga dan dipelihara. PNS harus mampu menjauhkan diri dari perbuatan yang sangat dimusuhi oleh aparat penegak hukum saat ini yaitu tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme,” tegasnya.
Dikatakan, dalam perjalanan Kabupaten Sabu Raijua selama satu tahun yang telah berlalu dibawah pemerintahan bupati dan wakil bupati, telah mencoba melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan mengandalkan konstelasi aparatur dan struktur organisasi yang terbawa sejak dibentuk dan diresmikannya Kabupaten Sabu Raijua.
Namun dalam perjalannannya struktur yang ada belum mampu menjawab tantangan yang sedang dihadapai oleh masyarakat.
“Artinya bahwa nafas dan roh dari otonomi daerah yang menghendaki agar terjadi layanan yang optimal, mudah, simpel dan sangat mudah dijangkau oleh masyarakat, namun hingga saat ini belum tercapai,” ujarnya.
Mutasi kali ini, katanya adalah sebagai upaya pengisian jabatan struktural eselon III dan IV sekaligus melakukan penyesuaian terhadap struktur organisasi sebagaimana amanah Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 32/2004 dan PP Nomor 41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah.
“Dengan demikian, mutasi yang dilakukan wajib dipahami semata-mata hanya untuk kepentingan kedinasan tanpa diwarnai atau ditaburi muatan kepentingan politik sebagaimana yang kita dengar dan kita lihat terjadi di daerah lain. Birokrasi harus mampu memproteksi diri agar tidak tercemar atau ternodai dengan kepentingan politik,” tegasnya.
Selain itu, mutasi juga merupakan usaha pimpinan untuk memperluas wawasan, pengalaman serta kemampuan aparatur. Selain itu dalam rangka penyegaran suasana serta peningkatan kinerja suatu organisasi. Untuk itu, maka jabatan yang ada harus dimaknai sebagai anugrah Tuhan dan kepercayaan pimpinan yang harus dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab dan penuh keikhlasan.
“Saya harapkan agar jangan ada yang merasa tidak nyaman atau tidak puas karena di mutasi kali ini dan tidak sesuai dengan harapannya. Teman dekat atau kerabat tidak berarti diperlakukan atau diberikan skala prioritas tanpa pertimbangan rasional. Untuk menggapai puncak tertinggi, maka tidak dilakukan dengan cara meloncat tapi harus dengan melangkah dan memanjat. Untuk itu, jika ada yang merasa belum diberi kesempatan saat ini, maka itu harus dimaknai sebagai kesempatan untuk terus meningkatkan kemampuan diri sehingga nanti, ketika tiba saatnya saudara dipercayakan untuk sebuah jabatan yang lebih tinggi, maka saudara telah memiliki amunisi yakni pengetahuan dan kompotensi,” katanya.
Ia mengatakan, Sabu Raijua harus dibangun dan diurus agar tumbuh mekar dan merangkak maju menjadi kabupaten yang inovatif maju dan bermartabat seturut dengan visi dan misi yang diemban saat ini.
By. HL

Radio Pemkab Sabu Raijua Segera On Air


sergapntt.com [MENIA] -Kalau tidak ada halangan, maka dalam waktu dekat Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Sabu Raijua akan segera beroperasi. Kepastian ini disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kominfo pada Dinas perhungan, pariwisata dan Kominfo Rudy Lituali, kemarin.
“Semua peralatan sudah siap dan kita sementara melakukan pemasangan, kita berharap agar dalam waktu dekat ini sudah bisa On Air,’ujar Rudy.
Dikatakan, Pembangunan RSPD telah dilaksanakan pada tahun 2011 silam, sesuai dengan anggaran yang telah disiapkan. Salah satu syarat dalam pengurusan perijinan sebuah RSPD berupa Peraturan Daerah yang mengatur tentang pembentukan radio pemerintah daerah, juga sudah ditetapkan oleh Pemerintah dan DPRD pada tahun 2011 lalu.
“RSPD harus menjadi media penyampai informasi yang obyektif. Tidak hanya bagi kelompok tertentu melainkan kepada masyarakat secara keseluruhan,” ujar Rudy.
Dikatakan, prioritas pembangunan Radio Siaran Pemerintah Daerah ( RSPD, ditujukan kepada layanan Informasi dan hiburan. Kondisi ini diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih mengenal perkembangan informsi dan teknologi  serta sarana pembangunan dan hiburan bagi masyarakat Kabupaten Rabu Raijua.
“Radio merupakan salah satu media massa yang sangat efektif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Efektif, karena ia menjangkau sangat banyak orang dalam suatu waktu, bisa didengarkan ketika sedang melakukan kegiatan lain, dan memiliki kesempatan masuk ke ruang dan waktu privat pendengar,”tambahnya.
Sementara Ketua Komisi B DPRD Sabu Raijua, Okto Kadja,SE kepada harian ini mengaku Minimnya sarana Komunikasi di Kabupaten Sabu Raijua membuat masyarakat sulit mengakses informasi tentang berbagai kebijakan pemerintah daerah dalam pemabanunan sehingga sarana komunikasi seperti RSPD bisa menjadi jembatan informasi yang aktual bagi masyarakat.
Sabu Raijua katanya, sangat jauh dari akses informasi baik itu media cetak maupun media elektronik sehingga pemerintah perlu membangun sebuah radio sebagai sarana informasi yang baik dalam menginformasikan setiap kebijakan pemerintah dalam pembangunan. “Di Sabu kita sangat jauh dari akses informasi, bagaimana masyarakat mengetahui berbagai kebijakan pembangunan yang sementara dilaksanakan pemerintah kalau tidak melalui media, dan media yang cukup baik adalah radio karena bisa diakses oleh seluruh masyarakat di sabu raijua,”ujar Okto.
By. SBR